Monday, April 23, 2007

Ritual Merti Bumi di Desa Jatirejo

Melongok Ritual Merti Bumi di Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Demak
Rangkul Siswa untuk Tanam Pohon dan Angkat Nasib Petani
Masyarakat Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Demak, kemarin menggelar ritual merti bumi. Prosesi tradisi ini melengkapi tradisi lainnya seperti sedekah laut dan desa yang biasa dilakukan oleh warga di wilayah pesisir utara Jawa. Namun, merti bumi sarat akan kritik sosial dan pesan untuk peduli lingkungan.

WAHIB PRIBADI, DEMAK
---

Tradisi merti bumi sendiri sebenarnya sudah cukup lama hilang di peredaran. Maklum, biasanya tradisi ini hanya diwarnai ritual doa. Namun, kemarin, pelaksanaannya juga dikemas dalam bentuk performance art berisi muatan pesan dan kritik sosial. Rusaknya lingkungan di bumi serta nasib petani yang kian terpuruk menjadi fokus pergelaran merti bumi kali ini.

Acara yang berlangsung sekitar pukul 10.00 itu digelar di lapangan bekas persawahan milik warga Desa Jatirejo. Digagas oleh sejumlah mahasiswa IKIP PGRI Semarang dengan Komunitas Seni Pak Jenthit Lololobah, prosesi merti bumi dipimpin oleh art performer dari Semarang Bowo Kajangan.

Sebelum prosesi merti bumi dimulai, lapangan bekas sawah tersebut ditanami sejumlah patung orang-orangan yang terbuat dari jerami padi atau yang disebut manusia jerami. Patung manusia jerami ini selama ini dipakai sebagai memedi sawah untuk menakut-takuti burung pemakan padi.

Namun, dalam konteks prosesi seni kali ini, jerami memiliki makna filosofis yang lebih mendalam. Yakni, sebagai penjelmaan sifat kejahatan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif seni, saat ini manusia yang hidup di era modern rata-rata secara aqliyyah termasuk pintar, cerdas dan mumpuni. Namun, sayang sudah banyak yang tidak bermoral, keblinger dan suka membuat kerusakan di muka bumi.

Fakta menyebutkan banyak tangan-tangan jahil dengan seenaknya menebang pohon. Aksi perusakan itu tidak diimbangi dengan penanaman pohon kembali (reboisasi) dan telah menyebabkan alam sekitar rusak berat. Kerusakan lingkungan yang sangat parah itu, menyebabkan manusia, utamanya di Indonesia, harus menuai aneka macam musibah alam.

"Sesungguhnya, alam tidak pernah memberikan bencana. Ia hanya mencari keseimbangan belaka. Karena itu, jangan salahkan alam. Salahkanlah manusia," terang Bowo.

"Aksi keprihatinan" dalam merti bumi kemarin juga melibatkan anak-anak sekolahan di Desa Jatirejo. Mereka menempati posnya dengan berlindung di balik memedi jerami tersebut. Setelah itu, Bowo Kajangan sebagai pemimpin ritual hadir di tengah-tengah manusia jerami, tepatnya di bawah manusia jerami yang ukurannya paling besar.

Selain dilengkapi dengan jas hujan, jerami besar itu juga dilengkapi dengan caping milik petani. Di tempat itulah Bowo memulai aksi teatrikalnya yang dibalut dengan prosesi ritual.

Tampilan Bowo sendiri cukup nyentrik khas orang seni. Mengenakan sarung kotak-kotak merah yang dibalutkan ke badannya, rambutnya yang panjang tampak ditata sedemikian rupa. Rambutnya tersebut digunakan untuk mengikat bibit pohon jati yang diletakkan di atas kepalanya. Sembari duduk bersila, mulut Bowo berkomat-kamit mengucapkan doa-doa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberikan keselamatan bagi umat manusia telah merusak lingkungan. Di depan Bowo bersila terdapat jajan pasar, seperti pisang, ketela pohong, kacang-kacangan dan tanaman lainnya.

Doa-doa Bowo lantas diamini oleh anak-anak yang ikut "dolanan" bersamanya dalam merti bumi tersebut. "Le sak iki kuwi akeh menungso sing rusak di lingkungan. Namung, ora gelem nandur maneh wit-witan. Mongko soko iku le, sak wise wit jati iki ditandur, rawato wit kuwi (Hai, anak-anak. Saat ini banyak manusia yang suka merusak lingkungan. Namun, mereka tidak mau menanam kembali pohon-pohon itu. Maka dari itu, setelah pohon jati ini ditanam, maka rawatlah pohon itu)," pesan Bowo kepada anak-anak.

Tak hanya itu, setelah berdoa bersama, Bowo dan anak-anak lantas berdiri. Dengan membawa wadah tempat air "suci" yang diambil dari tujuh mata air. Yaitu, mata air Gunung Muria, Kadilangu, masjid Agung Demak, gunung Ungaran, api abadi Mrapen, hutan Blora dan Bledug Kuwu Grobogan.

Air tujuh sumber tersebut disiramkan ke bibit pohon jati yang diikatkan di patung manusia jerami. Setelah itu, patung manusia jerami yang terdapat bibit pohon jati tersebut dicabut dari atas tanah untuk dibawa secara beriring-iringan untuk ditanam. Pohon jati plus manusia jerami ditanam di tepi saluran air yang memanjang di Desa Jatirejo. Anak-anak yang mengikuti ritual tampak senang. Sebab, selain diberi pengetahuan soal lingkungan, mereka juga diajarkan teknik teatrikal merti bumi.

"Anak-anak ini masih lugu dan memiliki sikap jujur. Generasi anak-anak inilah yang nanti akan merawat pohon-pohon yang telah ditanam. Sejak dini mereka kita berikan bagaimana merawat lingkungan," ungkap Bowo.

Dikatakan, kerusakan lingkungan di dunia, termasuk di Indonesia saat ini makin mengkhawatirkan. "Coba lihat, kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Coba lihat kasus penebangan hutan di wilayah kita. Maraknya bencana puting beliung salah satunya akibat ulah manusia yang secara kejam membabat hutan seenaknya," tuturnya.

Selain untuk menyongsong hari Bumi pada akhir April mendatang, aksi merti bumi ini juga menjadi media bagi petani yang nasibnya kini terus terpuruk. Bowo menjelaskan, hasil jerami padi saat ini dinilai lebih besar daripada harga beras. Nasib petani yang setiap hari bergelut dengan beras dan jerami justru lebih buruk dibanding si pembeli beras itu sendiri.

"Jadi, kita merasa prihatin dengan kondisi ini. Makanya manusia jerami sebagai media merti bumi juga menjadi ajang pesan kritik sosial. Sebab, ibaratnya petani saat ini banyak mendapatkan jeraminya daripada berasnya. Bayangkan, saat panen harga padi sangat murah," terangnya. Hal senada diungkapkan oleh Kepala Desa Jatirejo Budi Utomo. Menurutnya, saat ini harga padi kering panen di tingkat petani sangat anjlok. Yakni, dari Rp 2.400 per kilogram menjadi Rp 1.600 per kilogramnya.

"Jadi, tradisi merti bumi yang kita gelar bersama mahasiswa ini sekaligus sebagai protes atas rendahnya harga gabah yang kini tidak laku lagi. Kami berharap pemerintah menaikkan harga gabah dan beras serta menyetop impor beras. Impor beras benar-benar mematikan usaha petani lokal," ujarnya.

2 KELOMPOK FENOMENAL SEMARANG MAIN DI SOLO

Dua grup kesenian dengan pendekatan estetik dan artistik yang sangat berbeda akan tampil di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, untuk menggenapi Program Apresiasi Seni Pertunjukan yang diprakarsai Komunitas TBS bekerjasama dengan Teater Utan Kayu dan Ford Foundation.

Bertempat di Gedung Teater Arena TBJT Jl. Ir. Sutami 57, Sanggar Seni Paramesthi akan menggelar Reportoar Wayang Dongeng mereka Kamis, 30 Januari 2003 sejak pukul 20.00 WIB. Berikutnya Jumat, 31 Januari 2003 ditempat yang sama Gender ½ Tiang akan menggelar reportoar teater bertajuk “Arok” selama 60 menit dari pukul 20.00 WIB.

Untuk melengkapi program istimewa itu Komunitas TBS secara khusus juga mengundang Triyanto Triwikromo (pengamat seni pertunjukan, wartawan budaya, Semarang) & Drs. Hanindawan (sutradara, penulis naskah lakon, Solo) guna mempresentasikan hasil amatan mereka atas proses kreatif 2 grup tersebut, 31 Januari 2003 pukul 21.00 WIB.

koordinator,

Sosiawan Leak

TENTANG WAYANG DONGENG

gambaran pertunjukan
di halaman sebuah rumah sederhana, di sebuah perkampungan kecil, di kota semarang. berkumpul banyak orang. ada anak kecil, remaja, dan orang dewasa. mereka membentuk sebuah lingkaran besar.di tengah lingkaran itu ada beberapa orang yang sedang bermain. sekelompok orang dengan memegang berbagai alat bunyi sederhana duduk agak menepi dari lingkaran itu. mereka memainkan bunyi-bunyian sambil ketawa-ketiwi. bahkan ada yang berdiri beserta alat bunyi yang dipegangnya, dan sambil menabuh alat itu ia menari-nari. bunyi yang mereka timbulkan kadang-kadang terasa tidak harmony. bahkan beberapa orang yang ternyata bertugas sebagai penyanyi, mennyanyikan lagu yang kadang-kadang tidak pas di iramanya, namun mereka terus saja melakukannya dengan gembira. sementara seorang pemain lagi berlari kesana kemari di lingkaran, bahkan dia juga keluar dari lingkaran itu. seorang yang berjalan kesana kemari itu memegang sebuah benda yang menyerupai wayang, seperti yang tertancap di sekitar lingkaran orang berkumpul untuk menonton permainan itu. sementara di jalan orang tetap saja lalu lalang.ada yang sengaja berhenti, kemudian bergabung dengan lingkaran besar itu, ada yang hanya sekedar menoleh kemudian melanjutkan perjalanan. mereka bebas keluar masuk halaman rumah sederhana itu. tiba-tiba seseorang yang memegang wayang, berlari ke jalan, ternyata ia menemui seorang perempuan tua yang sedang menggendong seorang anak kecil. di berikannya sebuah wayang yang dipegang dan diajaknya nenek itu masuk dalam lingkaran besar itu. terjadilah dialog antara nenek dan seorang pemain yang tadi memberinya wayang.dari dalam kumpulan orang-orang yang melingkar itu sering terdengar celetukan, menimpali dialog tadi.
begitulah permainan itu terus berlangsung dengan kegembiraan. dan jalan di depan rumah itu tetap saja sibuk dengan aktivitasnya.

judul pementasan
“Macan Gareng”

crew

Pimpro : Yoyok Trotoary
Ide cerita : Sendang Mulyana
Dalang : Trontong Sadewa
Asisten Dalang : Dedy Irawan
Penata Laku : Daniel Hakiki
Penata Musik : Widodo & Dwi
Artistik : Bowo Kajangan
Wiyaga : Yoyok Trotoary, Prie, Sendang Mulyana, Wawan, Gun Bledug, Kasidi, Widodo, Dwi, Paminto,
Sinden : Ibu Kumijantara

sinopsis
Seekor anak kucing sedang menderita. Tiga hari yg lalu ia baru lahir, tapi oleh manusia ia dibuang di tempat pembuangan sampah. Terlunta-lunta ia mengais sampah demi hidup. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, datanglah seekor Anjing yang sangat dendeam dengan bangsa kucing. Spontan si anak kucing dianiaya hingga pada puncaknya kucing ditendang dengan keras sekali hingga terlempar jauh. Dasar apes, si anak kucing tsb menjatuhi macan Gembong yang lagi sedih memikirkan tiga anaknya yang hilang dicuri oleh manusia. Macan Gembong marah tetapi begitu melihat si anak kucing terluka parah, timbul belas kasihannya lalu si anak kucing diambil sebagai anak angkat raja hutan itu.

Dipeliharalah si anak kucing hingga besar; entah apa karena salah didik, si kucing menjadi sombong. Ia ingin dihormati oleh semua binatang, tetapi sebaliknya ia bertindak semena-mena thd binatang lain. Dari sinilah permasalahan muncul.

TENTANG GENDER ½ TIANG

profil gender ½ tiang
gender ½ tiang -komunitas yang akan mementaskan naskah arok ini- adalah nama yang spontan muncul dari sebuah obrolan ringan, berisikan seniman-seniman muda independent, dan mencoba memberikan alternatif lain kepada kehidupan teater di semarang.

Nama kemudian tidak menjadi sesuatu yang sakral selain menjadi sebutan formal belaka. Bukan pula sebuah ideologi atau ritual pemujaan.

Dedikasi pada karya ditempatkan dalam posisi tertinggi, ketimbang melulu membangun loyalitas kosong kepada sebuah lembaga.

judul pertunjukan
“Arok”

crew
naskah: benny benke, sutradara: benny benke
asisten sutradara: widyo babahe leksono
arok: onny, erwin temis, ametung: hery sgr, sony emka
dedes: ely kuswati, desy jeruk
tata artistik: adjie noegraha, bowo kajangan
tata lampu: alfi, abbas efendi, ari bubut
penata musik: wisnu bende, kostum: putri ayu, nita agustin, dokumentasi: janu kartika
publikasi: adhiet kaliksanan, fury, jay gema
produksi: gender ½ tiang
pimpro:ganug gurit geni
asisten pimpro: gendhut sofyan

sinopsis
naskah arok karya benny benke mencoba memberikan alternatif pemaknaan lain seputar kemelut kerajaan Singosari. Mencoba keluar jauh dari teks yang selama ini di-amini dan memberikan penekanan kepada pertikaian antara tiga tokoh utama : ken arok, ken dedes, dan tunggul ametung: tentang cinta, kebencian, nilai-nilai, sampai kepada hakekat manusia. Melampaui permasalahan hitam-putih, atau benar-salah sebuah penafsiran sejarah, tafsir benny terhadap satu teks sejarah ini, menjadi penting ketika apa yang ditawarkannya menjadi jalan lain untuk lebih menyikapi sejarah, bahkan mungkin menjadi cermin realitas ke-kini-an.